Libur Lebaran, Wisata Bukit Surowiti di Padati Pengunjung

Gresiknews.co – Menyusuri wisata di Gresik bagian utara, mulai Wisata Bukit Jamur, Wisata Mangrove Banyuurip, Wisata Banyu Biru rasanya kurang lengkap jika tak berkunjung di Wisata Bukit Surowiti (WBS) yang berada di bukit Desa Surowiti, Kecamatan Panceng.

Bukit Surowiti sendiri dulunya bernama Gunung Walik, karena bentuknya seperti piramida terbalik. Tempat ini memang dikenal merupakan salah satu tempat wisata religi di Gresik. Sekaligus memiliki keindahan panorama alam. Hampir setiap hari wisata ini banyak dikunjungi para wisatawan.

Kepala Desa Surowiti, Muhammad Kholidul Iman mengatakan, libur lebaran berdampak pada jumlah pengunjung WBS.

“Kalau hari biasa jumlah pengunjung hanya mencapai puluhan orang, sedangkan liburan kali ini dalam sehari bisa mencapai seribu,” kata Muhammad Kholidul Iman, Rabu (28/6/2017).

Pria yang dikenal sangat murah senyum tersebut tak segan-segan menceritakan sejarah beberapa obyek wisata yang tersedia di WBS pada para pengunjung.

“Jadi, pengunjung tak hanya melihat keindahan situs-situs yang ada disini, tetapi juga bisa tahu tentang sejarahnya,” imbuhnya.

Dengan ketinggian 260 m dari permukaan laut, WBS yang berjarak ±40 km dari kota Gresik melalui Jalur pantura Gresik-Tuban atau ±3 km dari jalan raya Panceng memiliki beberapa obyek yang dapat dikunjungi, yakni Makam Sunan Kalijaga, Makam Mpu Supa, Makam Raden Bagus Mataram, Mbok Ayu Roro Mendut, Petilasan Kali Buntung, Petilasan Tapa Ngluweng (Tapa Kubur) Sunan Kalijaga, Goa Langseh, Goa Macan dan Goa Jodoh.

1. Petilasan Kali Buntung

Di kaki bukit Surowiti terdapat sebuah telaga dan pada tepinya ditumbuhi rumpun bamboo. Menurut cerita tutut, tempat tersebut pada jaman dahulu merupakan sungai anak Bengawan Solo, yang merupakan tempat Raden Sahid (nama asli Sunan Kalijaga) bertapa dan menjaga tongkat Sunan Bonang yang tertancap di tepi sungai (Kali Buntung). Akhirnya tongkat tersebut menjadi rerumputan batu. Oleh karena itu petilasan tersebut merupakan asal-usul dari sebutan Sunan Kalijaga artinya sunan penjaga sungai.

2. Makam Mpu Supa

Menurut cerita penduduk setempat, tempat tersebut merupakan makam Mpu Supa Mandrangi atau juga disebut Pangeran Sedayu, yaitu seorang Mpu Linuwih pada jaman Majapahit. Karya besar beliau berupa keris sengkelat, yang merupakan pusaka tersohor kesaktiannya pada kejayaan Majapahit. Mpu Supa merupakan adik ipar Sunan Kalijaga dan sekaligus santri Sunan Kalijaga. Banyak orang berziarah ke tempat ini terutama untuk mencari kesaktian dan mencari pusaka (keris). Di dekat makam Mpu Supa terdapat Goa Macan, yang konon ceritanya sebagai macan peliharaan Ki Songo Wongso (cikal bakal orang Surowiti).

3. Makam Raden Bagus Mataram

Menurut cerita tutur, Raden Bagus Mataram adalah seorang punggawa kerajaan mataram yang kaya. Kemudian meninggalkan Mataram enggan membawa barang kekayaannya menuju Surowiti untuk berguru (nyantri) ke Sunan Kalijaga. Banyak orang yang dating terutama dalam hal rejeki dan kekayaan.

4. Petilasan Tapa Ngluweng (Tapa Kubur) Sunan Kalijaga

Menurut cerita rakyat, tempat ini bekas petilasan Sunan Kalijaga ketika menggembleng diri dengan bertapa “ngluweng” atau bertapa dengan mengubur iri seperti orang meninggal. Banyak orang dating ke tempat ini untuk mencari berkah terutama dalam hal derajat, pangkat dan jabatan.

5. Goa Langseh

Goa ini mempunyai 2 ruangan, yaitu ruang atas dan ruang bawah. Menurut cerita rakyat setempat, ruangan goa yang di bawah dipergunakan Sunan Kalijaga bertapa, sedangkan ruang yang atas ada seperti lantai dari batu berbentuk bulat besar, yang konon tempat ini digunakan sarasehan (pertemuan) para walisongo. Dan di atas goa terdapat tanah datar yang dulunya merupakan tempat latihan olah kanuragan para santri Sunan Kalijaga. Di dalam ruangan goa yang di bawah tanah ada tetesan air yang tersimpan dalam satu tendon kecil, dahulu dipergun akan untuk wudlu, dan sampai sekarang tetesan air itu masih ada, namun kecil. Ada sebagian orang yang percaya bahwa air tersebut sangat bertuah dan dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Obyek-obyek tersebut berada dalam satu lokasi dan saling berdekatan, sehingga mudah dijangkau dalam waktu yang relative singkat. (Khanif/m1)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *