Batik Pitutur Kian Bersinar Ditengah Gempuran Produk China

Gresiknews.co – Batik Pitutur, merupakan satu-satunya produk batik bercorak khas Gresik yang makin bersinar di tengah gempuran produk-produk batik dari negara lain. Produk asli warisan nenek moyang ini  justeru makin diminati karena mempertahankan nuansa tradisional khas kota wali. Ragam desain motif dan gambar yang tertuang dalam Batik Pitutur ini, mampu menyentuh dan memikat hati Bupati Gresik yang tak kuasa menahan diri untuk ikut mendesain beragam pola motifnya.

H. Ilham, seorang pensiunan sekdes warga desa Cerme Lor, Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik, meraih sukses setelah menekuni batik. Di usia nya yang sudah 60 tahun, pria dua putra ini menemukan motif batik bercorak khas kota Gresik yang disukai banyak kalangan. Seperti pudak, ketupat, udang, bandeng, Gapura, hingga rusa Bawean.

Bermula dari mengikuti kegiatan pelatihan — pelatihan yang dibuat Diskoperindag Kabupaten Gresik maupun Provinsi Jawa Timur di pertengahan tahun 2009, dia mengenal batik. Bahkan beberapa bulan menghabiskan waktu dibalai museum batik di Jogjakarta. Di tahun 2011 H. Ilham juga sempat singgah satu bulan di Pekalongan. Belajar membatik baginya cukup bermakna. Selain melestarikan budaya nusantara, juga untuk mengisi waktu di hari tua. “Bangsa kita memiliki budaya dan kearifan lokal yang kaya. Wajib bagi kita untuk melestarikannya,” Kata H. Ilham beberapa waktu lalu.

Meski gempuran produk-produk batik dari mancanegara mulai membanjiri pasar di dalam negeri, tetapi Pria yang telah dikaruniai enam orang cucu ini pantang menyerah, dan terus melakukan inovasi produk-produknya. Berkat ketekunan dan semangat kerjanya, produk batik buatanya kini justeru semakin bersinar dan mulai banyak diminati warga.

Batik Pitutur bermotif khas Gresik, merupakan salah satu produk batik unggulan karya tangan terampilnya yang kini mulai disuka banyak kalangan.

“Selain mempertahankan nuansa lokal tradisional, Kita lebih banyak menggunakan pewarna alami untuk menghasilkan produk yang lebih berkualitas. Hanya sesekali kita menggunakan bahan kimia untuk campuran pewarna Batik sesuai pesanan pelangan,” Kata Dia.

Pewarna batik dari bahan-bahan alami diantaranya dari daun jati, daun sirih, daun kenikir, daun jambu, kulit beragam pohon, dan tanaman lain yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar rumah warga.

Sama dengan produk batik lainnya. Pembuatan batik Pitutur diawali dengan pembuatan desain dan dilanjutkan dengan proses canting. Setelah itu, proses dulit, dan nembok menggunakan malam untuk menutup warna. Selanjutnya kain direbus untuk menghilangkan malam, dan dilanjutkan dengan pewarnaan yang memanfaatkan menggunakan bahan baku alamiah. Yakni daun-daun tanaman yang banyak menghasilkan pewarna alamiah yang banyak tumbuh di sekitar pekarangan.

“Untuk menghasilkan satu lembar kain batik, dibutuhkan waktu dua minggu hingga satu bulan,” Jelas H. Ilham.

Setelah menekuni batik hampir tujuh tahunan, H. Ilham saat ini memiliki Sembilan karyawan dan puluhan warga binaan yang tersebar di beberapa daerah di Kabupaten Gresik. Diantaranya 20 orang di desa Sawo, Kecamatan Dukun. 30 orang warga binaan di Desa Betoyoguci, 60 orang di Desa Wringinanom, dan puluhan lainnya di desa Giri, Kecamatan Kebomas. Harga produk batik Pitutur Gresik ini dijual dengan harga bervariatif mulai dari 175 ribu sampai dengan 900 ribu rupiah yang berbahan baku kain sutera.

Meski harus melalui masa masa sulit, usaha H. Ilham di hari tua terbukti tidak sia-sia. Ragam desain motif dan gambar yang tertuang dalam Batik Pitutur ini, mampu menyentuh dan memikat hati Bupati Gresik yang tak kuasa menahan diri untuk ikut mendesain beragam pola motif nya. Dari Batik Pitutur khas Gresik karyanya ini, terlahirlah Batik Pamiluto yang saat ini dipatenkan sebagai batik resmi Kabupaten Gresik.(Ika/khanif)

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *