Begini Kronologi Persekusi Guru oleh Murid SMP di Gresik

Gresiknews.co – Aksi persekusi murid terhadap guru kembali terjadi. Kali ini siswa SMP PGRI Wringinanom Kabupaten Gresik berani menantang berkelahi sang guru dihadapan teman-temannya saat proses belajar mengajar.

Tak hanya itu, aksi yang mencoreng dunia pendidikan tersebut juga direkam menggunakan handphone siswa lainnya, yang kemudian di unggah di media social (medsos) dan menjadi viral.

Dalam video viral berdurasi hampir satu menit itu, siswa berinisial AA (15) itu mengajak berkelahi guru mata pelajaran ilmu pengetahuan sosial (IPS) bernama Nur Kalim (30) dihadapan teman-temannya.

Aksi persekusi bermula ketika korban Nur Kalim menegur pelaku AA agar tidak merokok di dalam kelas. Tak terima atas teguran itu, pelaku lantas mendatangi sang guru dan mengajak berkelahi.

Kejadian ini sebenarnya terjadi pada Sabtu 2 Februari 2019 di ruang Kelas IX SMP PGRI Wringinanom, namun baru viral seminggu setelahnya.

Pihak kepolisian kemudian memanggil pelaku dan korban untuk dilakukan mediasi di Polsek Wringinanom, Minggu (20/2/2019). Pelaku yang masih di bawah umur ini datang dengan didampingi kedua orang tua. Hadir juga Kepala Dinas Pendidikan Gresik, Mahin, perwakilan Kementrian Sosial, pihak Yayasan PGRI Wringinanom.

Nur Kalim menyatakan, sebelum ada mediasi sebenarnya dirinya telah memaafkan AA. Ia juga ingin permasalahan persekusi selesai.

“Saya sudah memaafkan AA sejak jauh-jauh hari, permasalahan ini cepat selesai,” ungkapnya.

Usai mediasi pelaku meminta maaf kepada korban dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya. Kedua bela pihak akhirnya sepakat untuk berdamai serta tidak akan menempuh jalur hukum.

Ada beberapa poin yang disampaikan saat mediasi.

Pertama ingin menyelesaikan masalah dengan cara win-win solution, karena AA masih kelas IX dan akan mengikuti Ujian Nasional.

Kedua, surat pernyaataan kesepakatan kedamaian dan terakhir AA akan menyampaikan video permintaan maaf.

Kapolsek Wringinanom, AKP Supiyan, mengatakan permasalahan kasus keduanya selesai dengan cara damai.

“Karena kedua belah pihak sepakat damai, maka tidak akan diteruskan ke ranah hukum, mengingat AA masih kelas IX SMP,” ujar Supiyan.

Sementara, Ayah AA, Slamet Riyanto (40) berjanji akan mengawasi kegiatan putranya baik di dalam maupun di luar rumah.

“Ke depan saya akan membimbing anak saya sepenuh hati terus-menerus sampai jenjang sekolah selesai,” tutur Slamet. (Khanif/m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *