Desa Sambipondok, Pos Pemeriksaan Terakhir Rempah-rempah Zaman VOC

Gresiknews.co – Desa Sambipondok mempunyai peranan penting sebagai jalur perdagangan rempah-rempah. Bahkan, desa di Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik ini ditengarai sebagai pos terakhir pemeriksaan hasil rempah-rempah sebelum dikirim ke berbagai daerah dan negara.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Lesbumi PBNU, Prof. Dr. K. Ng. H. Agus Sunyoto saat Sedekah Bumi Desa Sambipondok, Selasa (10/9/2019).

Menurut Agus Sunyoto, penamaan Desa Sambipondok tak bisa dilepaskan dari perananya sebagai wilayah pemeriksaan rempah-rempah massa VOC Belanda.

“Sambipondok itu dari kata Sambi dan Pondok. Sambi itu artinya sementara. Sedangkan Pondok artinya tempat tinggal. Jadi, desa ini merupakan penginapan sementara sambil nunggu rempah-rempah diperiksa,” terang Agus Sunyoto.

Namun, kata Sunyoto, nama Sambipondok termasuk nama baru. Sehingga tidak ditemukan dalam naskah-naskah kuno. “Disini dulu sekitar tahun 1886 M dinamakan daerah Pabobolan. Ada juru tiki, bagian memeriksa keaslian rempah-rempah,” ucapnya dihadapan ratusan warga yang hadir.

Lebih lanjut, Agus Sunyoto menjelaskan, bahwa sedekah bumi yang memulai para walisanga. Baru ada saat zaman kerajaan Demak. “Jadi ini ajaran agama Islam. Istilahnya shodaqoh sekaligus zakat pangan hasil bumi,” jelasnya.

Sedekah bumi Desa Sambipondok dimulai dengan arak-arakan tumpeng hasil bumi berukuran besar dari Balai Desa Sambipondok menuju lapangan desa.

Tumpeng tersebut terbuat dari hasil pertanian seperti jagung, terong, mangga, nanas, cabe, dan sayur-sayuran.

Kepala Desa Sambipondok, Sumadi menyatakan, sedekah bumi ini merupakan ungkapan syukur atas hasiln panen yang melimpah.

“Ini adalah shodaqoh bumi. Saya tidak pakai ancam-ancam untuk membuat. Warga sendiri yang sukarela membuat. Ini sudah menjadi tradisi,” kata Sumadi dalam sambutannya.

Sementara, Wakil Ketua Lesbumi PCNU Gresik, Moh. Dhiya’uddin menyatakan, bahwa Lesbumi Gresik terbuka bagi desa-desa yang ingin mengali sejarahnya.

“Sebelum di Sambipondok, Kami sudah melakukan kajian sejarah bersama Pemdes Bedanten Bungah dan Pemdes Banyuwangi Manyar,” ujarnya.

Dirinya juga mengajak semua warga untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan tradisi budaya. “Mari kita jaga tradisi yang sudah menjadi indentitas masyarakat,” pungkasnya. (Khanif/m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *