Edarkan Alat Kesehatan Tanpa Izin, Warga Kebomas ditangkap

Gresiknews.co – Tindakan Zudi Rotin, warga Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, yang memproduksi dan mengedarkan alat-alat kesehatan berupa plat besi atau pen dan screw orthopedi tanpa izin, akhirnya membuat pria berusia 41 tahun itu harus berurusan dengan aparat kepolisian.

Plat besi atau pen penyambung tulang patah biasa dipakai untuk mengunci posisi tulang yang patah, agar dalam keadaan lurus dan menempel antara kedua permukaan tulang ini diproduksi pelaku bersama dua orang karyawannya di Pergudangan Prambanan Bizland Blok Sa 45 Kecamatan Cerme, Kabupaten Gresik.

Kapolres Gresik AKBP Wahyu Sri Bintoro menyatakan hasil produksi alat kesehatan (alkes) illegal milik pelaku diedarkan ke wilayah Semarang, Jawa Tengah. Dalam mengedarkan alkes ilegal itu, pelaku tidak langsung menjual ke rumah sakit, tetapi melalui sales dan marketing yang bekerja di perusahaan bergerak di distributor alat kesehatan.

“Hasil penyelidikan kami terhadap dua orang karyawan, terbukti ZR (Zudi Rotin) memproduksi dan mengedarkan alat-alat kesehatan berupa implant pen dan screw orthopedi yang tidak memiliki izin edar sesuai peraturan menteri kesehatan nomor 62 tahun 2017 tentang izin edar alat kesehatan,” ujar Wahyu, Senin (22/10/2018).

Pelaku memproduksi pen dan screw orthopedi dari bahan stainless stell hanya dengan alat seadanya, seperti mesin bor, mesin bubut, gerinda tangan, mesin press dan mesin poles.

Zudi Rotin berkilah, dirinya mengaku sebenarnya sedang mengurus proses pembuatan izin edar alkes. Hanya saja izinnya belum keluar. Ia pun hanya memproduksi pen dan screw orthopedi sesuai pesanan.

“Jadi kami jasa untuk repair. Kami menunggu perizinan selesai sebelum produksi massal. Karyawan saya juga masih dua, yang bekerja satu setengah bulan,” ungkapnya.

“Terakhir jual kemarin 4 juta. Untuk jasa repair satu biji saya ambil 100 ribu,” imbuh Zudi.

Dari tangan pelaku, petugas menyita sejumlah barang bukti, diantaranya 350 screw atau scrup orthopedic, 20 plate pen orthopedi,  satu lembar stainless, mesin bor, mesin bubut dan 26 lembar resi pengiriman.

Pelaku dijerat dengan pasal 197 undang-undang ri nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman penjara 15 tahun dan denda pidana sebesar rp 1,5 miliar. (Khanif/m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *