Gresik Kota Bandar Terbesar di Nusantara

Gresiknews.co, – Kota Gresik atau lebih luas lagi Kabupaten Gresik adalah kota syahbandar terbesar dalam sejarah perkembangan nusantara. Setidaknya catatan ini bisa kita temui dari tulisan De Graaf dalam Javanologi. Mengupas historis kerajaan kerajaan di Indonesia, khususnya era Mataram.

Selain De Graaf, tulisan yang jauh lebih detil lagi terdapat di The Early Kingdom Malaya Peninsula and Indonesia Archipelago, karya Bertnand Russel, Filosof Jerman terkenal. Yang berbicara secara terinci mengenai terbentuknya kota-kota tua di semenanjung Malaysia dan Kepulauan Indonesia. Dalam tulisan Russel ini, Gresik digambarkan sebagai salah satu kota niaga Tertua di Indonesia, karena letaknya berada di muara sungai Bengawan Solo, sungai terpanjang di pulau Jawa. Selain dua nama besar diatas, Seno Gumirah Adji Dharma, dalam karyanya Pendekar Tanpa Nama juga banyak mengupas sosio kultur Gresik beserta dinamika masyarakat pesisirnya yang cukup strategis di era kerajaan Mataram kuno (7-8 Masehi).

Dari catatan catatan seputar Gresik ini, menunjukkan bahwa kota yang kini dikenal dengan kota wali dan kota santri ini keberadaannya cukup penting dalam percaturan perkembangan kemajuan nusantara masa lampau. Maka tak heran, jika kota ini melahirkan nama besar dibidang perniagaan dan ke-pelabuhan-an di nusantara, Nyai Ageng Pinatih,  seorang Administrator kesyhabandaran terbesar di era masa lalu. “Mestinya kita banyak belajar dari beliau,” kata Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa saat menghadiri haul Nyai Ageng Pinatih beberapa waktu lalu.

Semenjak berabad-abad yang lalu, lalu lintas perdagangan di Pulau Jawa dipusatkan di Gresik. Disinilah para pedagang dan pelaut menukar rempah – rempah dengan beras dan pakaian untuk di bawa ke pedalaman. Di Gresik pula, banyak terdapat pedagang – pedagang dari daerah barat yang ingin mengisi kapal kapal mereka dengan rempah – rempah, untuk diangkut ke Malaka, India, Arab, hingga Eropa. Orang – orang Portugis, Inggris, Spanyol, Belanda, dan Prancis, rela berlayar ke pelabuhan Gresik, berebut beragam kebutuhan rempah.

Dalam catatan De Graaf, disebutkan Kantor dagang (factorij) pertama VOC di Indonesia berdiri pada 25 November tahun 1608. Kantor dagang yang berfungsi sebagai gudang sekaligus benteng pertahanan ini dikenal dengan sebutan Loji. “Lokasi Bangunan loji itu saat ini dipakai kantor Pos lama,” jelas KH Mochtar Jamil, Ulama sekaligus budayawan terkemuka kota pudak. (ik/febri m)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *