Keturunan Bupati Gresik Pertama Luruskan Sejarah Gresik

Gresiknews.co – Riwayat tentang Kyai Tumenggung (K.T.) Poesponegoro yang bersumber dari prasasti batu di kompleks makam Bupati Gresik pertama tersebut perlu diluruskan.
Hal itu disampaikan Keturunan Bupati Gresik pertama sekaligus Ketua Lesbumi PBNU, KH. Agus Sunyoto saat Peringatan Haul ke 300 K.T. Poesponegoro.
Tampak hadir dalam haul ini, mantan Bupati Gresik KH. Robbach Maksum, Ketua Lesbumi PCNU Gresik KH. Alfin Sunhaji, Kaji Kabul dan keturunan K.T. Poesponegoro.
“Ada yang perlu kita jelaskan tetang riwayat K.T. Poesponegoro. Di dalam prasasti batu itu disebutkan beliau adalah keturunan kelima dari Adipati Sengguruh,” ungkap Agus Sunyoto, Minggu (22/9/2019).
Adipati Sengguruh, kata Agus Sunyoto, ada dua orang, yakni Raden Pramana dan Pangeran Arya Terung. Keduanya merupakan raja di Kerajaan Sengguruh, Malang.
Dalam Babad ing Gresik, Raden Pramana disebutkan pernah menyerang Giri Kedhaton yang saat itu dipimpin Sunan Giri II atau Sunan Dalem. Giri waktu itu dibela oleh prajurit patang puluhan dari pendekar Cina Muslim yang dipimpin Panji Laras dan Panji Liris.
Pertempuran yang terjadi di wilayah Lamongan itu dimenangkan oleh pasukan Raden Pramana atau Sengguru I. “Karena kalah jumlah, akhirnya pasukan Giri mundur. Kemudian Sunan Dalem dibawa ke Desa Gumeno, Manyar,” ujar penulis buku Atlas Wali Sanga ini.
Sedangkan Pangeran Adipati Arya Terung, anak Adipati Terung atau Raden Kusen adalah orang yang berhasil mengalahkan Raden Pramana. Sehingga mendapat gelar Kyai Adipati Sengguruh II.
“K.T. Poesponegoro yang memerintah tahun 1688-1696 M. merupakan keturunan dari Kyai Adipati Sengguruh II,” ucap Agus Sunyoto dihadapan ratusan orang yang hadir.
Bagus Poespodiwangsa diangkat Amangkurat II menjadi Bupati Gresik pertama dengan gelar Kyai Tumenggung Pusponegoro. Ketika awal memimpin Gresik kondisinya rata dengan tanah. Yang pertama dibangun adalah masjid jami’, pasar, setelah itu kadipaten.
“Untuk menjaga keamanan, Bupati Poesponegoro mewajibkan semua padukuhan ada langgar untuk ibadah warga sekaligus untuk keamanan kampung,” terangnya.
Sementara mantan Bupati Gresik KH. Robbach Maksum menyatakan acara Haul seperti ini harus terus diadakan. Supaya terus ada dan lestari. “Mari Nguri-nguri tradisi dan budaya yang baik,” ajaknya. (Khanif/m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *