LBM NU Gresik Gelar Bahtsul Masail, Ini Hasilnya

Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PCNU Kabupaten Gresik. (Syafik hoo/Gresiknews.co)

Gresiknews.co – Tiga persoalan yang ada di masyarakat dibahas dan dikaji hukumnya oleh Pengurus Cabang Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (PC LBM NU) Kabupaten Gresik di Aula Ponpes Al-Karimi Desa Tebuwung, Kecamatan Dukun, Minggu (23/9/2018).

Ketiga topik yang dibahas, yakni hukum sholat jum’at empat rakaat (bagi yang tidak mendengarkan khutbah), hukum Juragan (pemilik modal) menghutangi petani untuk beli bibit dan harus menjual hasil panennya kepada yang menghutangi, serta hukum sholat ghoib untuk jenazah yang tidak diketahui apakah sudah dirawat atau belum.

Ketua PC LBM NU Gresik, KH. Ahmad Zainuri mengatakan, tiga persoalan yang dibahas merupakan keresahan masyarakat mengenai belum jelasnya hukum fiqih dari permasalah-permasalahan tersebut, berdasarkan kajian kitab dan literatur yang ada.

“Ini juga menjadi ajang tukar pendapat dan sharing untuk menentukan keputusan bersama berdasarkan hukum fiqih,” kata Gus Zen, sapaan KH. Ahmad Zainuri.

Sementara, Sekretaris PC LBM NU Gresik, Fathoni Muhammad menjelaskan hasil dari bahtsul masail yang diikuti oleh puluhan peserta, dari utusan 16 MWC NU dan Pondok Pesantren se-kabupaten Gresik. Termasuk Rois Syuriah PCNU Gresik, KH. Mahfud Ma’shum.

Untuk hukum sholat jum’at empat rakaat (bagi yang tidak mendengarkan khutbah), jawabannya: A. Kedudukan khutbah adalah syarat sah menyelenggarakan jum’atan yang harus didengarkan ahlul Jum’at.

“Secara hukum tidak ada sanksi (hukuman harus menambah dua rakaat sebagai ganti khutbah yang tak diikuti), tetapi pelakunya berdosa,” jelas Fathoni menerangkan hasil bahtsul masail poin B.

C. Pendapat tersebut benar jika mengikuti qoul qodim Imam Syafi’i, tetapi itu tidak berlaku, karena siapapun yg masih mendapati satu rakaat bersama imam, maka hanya menambah satu rakaat dan sholat Jum’atnya sah.

Refensi: 1. Al-Majmu’ Syarah Al-Muhazhab. 2. Hasyiyah Asy-Syarqawi dan 3. I’anah Ath-Thalibin.

Untuk hukum juragan (pemilik modal) menghutangi petani untuk beli bibit dan harus menjual hasil panennya kepada yang menghutangi, jawabannya: A. Ditinjau proses akadnya; selama ketentuan yang telah berlaku umum itu tidak terjadi di dalam akad, maka tidak berimplikasi riba dan akadnya sah.

“Jika disepakati dalam akad, maka tidak sah, karena terjadi praktik riba,” tutur Fathoni.

Referensi: 1. I’anah Ath-Thalibin dan 2. Al-Mantsur az-Zarkasyi

Sedangkan persoalan hukum sholat ghoib untuk jenazah, yang tidak diketahui apakah sudah dirawat atau belum, masih belum dibahas dikarenakan waktu.

“Persoalan ketiga belum terbahas. Insyaallah jadi pertanyaan pada bahtsul masail berikutnya,” pungkas Fathoni. (Syafik hoo/Khanif)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*