Menengok Usaha Budidaya Ulat di Desa Klampok Benjeng

Taufik saat mengecek janggel jagung miliknya yang menjadi sarana bertelur ulat. (nif)

Gresiknews.co – Usaha budidaya ulat memang jarang dilirik oleh kebanyakan orang. Khususnya masyarakat Kabupaten Gresik. Padahal dari usaha ini memiliki peluang tinggi dan hasilnya cukup lumayan.

Apalagi saat ini semakin marak komunitas burung kicau dan berbagai jenis burung piaraan, seperti murai batu, cicak ijo, kacer, jalak, kenari yang menjadikan ulat sebagai makanannya.

Hal tersebut tentu membawa berkah tersendiri bagi pembudidaya ulat. Salah satunya Taufik (60), seorang pembudidaya ulat makanan burung di Desa Klampok, Benjeng, Gresik.

Menurut Taufik, saat ini meski peningkatannya tidak signifikan, namun grafik permintaannya selalu naik. “Tren burung berbeda dengan tren ikan lohan. Kalau tren burung itu lebih stabil. Jadi permintaan kebutuhan ulat makanan burung juga stabil. Peningkatan tetap ada meski tidak tinggi sekali,” ungkap Taufik, Minggu (13/5/2018).

Taufik sendiri sudah memulai usaha budidaya ulat sejak tahun 2014. Ia pun menjelaskan mengenai proses budidaya ulat makanan burung yang ditekuninya bersama anaknya, yang bernama Imam Wahyudi tersebut.

“Sebagai langkah awal, kami membeli kepik, jenis serangga yang dibuat indukan,” jelasnya.

Kepik indukan inilah yang kemudian diletakkan dalam kotak berukuran 60 cm x 120 cm dengan tinggi 15 cm. Di dalam kotak itu lalu diletakkan janggel jagung sebagai sarana tempat bertelur bagi kepik indukan. “Proses bertelur biasanya membutuhkan waktu tiga belas hari,” ujar Taufik.

Setelah 13 hari, janggel yang sudah ada telurnya kemudian dipisah ke kotak lain yang telah diberi campuran pollard dan dedak padi untuk proses penetasan dan pertumbuhan ukat. Sebagai makanan bagi kepik indukan maupun ulat yang telah menetas Taufik menggunakan ampas tahu yang dia beli dari perusahaan tahu di Desa Gadingwatu, Menganti, Gresik.

“Saat proses bertelur, saya hanya memberi makanan kepik sehari sekali. Tapi ketika telur-telur tersebut sudah menetas saya memberi makan dua kali yakni pagi dan sore,” tuturnya.

Setiap 23 hari sekali Taufik memanen ulatnya. Untuk sekali panen Taufik bisa menghasilkan 37 kg hingga 40 kg. Hasil panennya tersebut lantas disetorkan ke pengepul seharga Rp 18 ribu per kilonya. “Sudah ada pengepul yang datang kesini jika saya panen,” ucapnya.

Secara keseluruhan, proses budidaya ulat makanan burung memang tidak semudah yang dibayangkan. Meski begitu Taufik mengaku tetap sabar menjalani usaha ini demi membantu perekonomian keluarganya.

“Yang namanya mencari duit halal itu memang rumit. Tapi kita tidak boleh putus asa untuk mendapatkannya,” pungkas Taufik. (khanif/m1)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*