Pelihara Burung Merak Hijau, Warga Golokan Sidayu Diamankan Polisi

Gresiknews.co – Dani Agus Saputra (31), warga Desa Golokan, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik terpaksa diamankan petugas Satreskrim Polres Gresik. Dirinya ditangkap lantaran memelihara 5 burung Merak Hijau yang masuk kategori satwa dilindungi.

Dani tak sendirian, pihak Polres Gresik juga menetapkan Heru dan Ferdi sebagai tersangka karena ikut memperjualbelikan burung satwa langka. Sementara satu orang pria berinisial D asal Sumatera masuk DPO (Daftar Pencarian Orang).

Saat ini diketahui jumlah populasi Merak Hijau di alam bebas semakin langka. Diperkirakan tinggal 800 ekor. Untuk itu, pemerintah melaras keras jual beli satwa liar tersebut.

Kapolres Gresik AKBP Kusworo Wibowo menyatakan, burung Merak Hijau yang diamankan dari tangan tersangka itu dipelihara sejak masih telur. Selanjutnya dengan alat penetas selama 27 hari hingga dewasa.

“Burung itu dititipkan di rumah mertuanya, tersangka lalu kita amankan. Untuk ukuran dewasa, pasaran Merak Hijau bisa dihargai Rp 25 juta perekor,” ungkap Kusworo di halaman Mapolres Gresik, Selasa (8/10/2019).

Dalam pengembangan kasus ini, polisi telah menyita 13 ekor burung satwa dilindungi,yakni 5 ekor burung Merak Hijau, 6 ekor burung Takur Api, dan 2 ekor burung Tangkar Uli Sumatera.

Dua orang tersangka lainnya, Heru dan Ferdi berperan sebagai suruhan dari D (DPO) untuk mengirim satwa langka dari Sumatera ke Gresik. Keduanya kepergok saat menyelipkan burung langka di dalam kandang yang diangkut mobil pickup.

“Dalam penggerebekan di Menganti ini, kami mengamankan 6 ekor Takur Api seharga Rp 1 juta dan 2 ekor Tangkar Uli Sumatera seharga Rp 1,5 juta. Burung tersebut hendak diperjualbelikan di tepi jalan,” terangnya.

Kepala BKSDA Wilayah II Jatim Wiwid Widodo yang hadir dalam rilis Polres Gresik menjelaskan, perdagangan satwa dilindungi masih marak di wilayah Gresik dan Lamongan. Kebanyakan melakukan jual beli melalui online.

“Satwa burung ini akan segera kami rehabilitasi karena bisa berpotensi membawa penyakit. Selanjutnya akan diberikan surat keterangan satwa bebas penyakit,” kata Wiwid.

Atas perbuatan itu, tersangka dijerat pasal 40 ayat 2 junto pasal 21 ayat 2 (a) UU RI no. 5 tahun 1990 tentang konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Adapun ancaman hukumannya paling lama 5 tahun penjara. Dengan denda paling banyak Rp 100 juta. (Khanif/m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *