Penyelesaian Sengketa Medik dengan Mediasi

Oleh: dr Titik Ernawati*

Hubungan antara dokter dengan pasien kerap kali menimbulkan konflik atau sengketa. Hal ini tak lepas dari pergeseran nilai yang dulunya dokter adalah profesi mulia bergeser terminologi sebagai pelayan jasa, sehingga pasien disebut sebagai konsumen atau klien. Oleh sebab itu, sebagai pelayan jasa harus memberi kepuasan kepada pasien.

Dalam proses melayani pasien untuk memperoleh pengobatan terjadilah transaksi terapeutik antara pasien dan dokter, berlaku perikatan berdasarkan upaya maksimal dan sungguh-sungguh dari dokter dalam mengobati pasien (inspanningverbintenis), akan tetapi dokter tidak bisa menjamin hasil akhir yang baik yang dapat memuaskan kedua belahpihak.

Menurut M. Jusuf Hafiah, dalam buku ‘Etika Kedokteran &Hukum Kesehatan’ dikatakan, dalam hal tidak ada kepastian hasil yang memuaskan pasien atau keluarga dapat disebabkan berbagai faktor diluar kekuasaan dokter yang mempengaruhi proses pemeriksaan dan pengobatan pasien. Faktor-faktor yang dimaksud seperti virulensi penyakit, daya tahan tubuh pasien, stadium penyakit hingga kualitas obat. Selain itu, kepatuhan pasien dalam mengikuti prosedur dan nasihat dokter serta faktor lainnya juga mempengaruhi. Sehingga memang setiap tindakan medik berpotensi mengandung risiko terjadinya komplikasi walaupun minimal sifatnya yang masih dapat ditolerir. Dari sinilah muncul sengketa medik atau dalam istilah hukum kerap disebut malpraktek.

Berdasarkan data Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan, hingga saat ini di Indonesia tercatat 405 laporan hukum terhadap dokter. Sebanyak 73 kasus di antaranya dilaporkan ke kepolisian.
Bahkan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Jawa Tengah mencatat ada 68 kasus, dengan kisaran 2-13 kasus per tahun, rata-rata 6 kasus per tahun.

Sebelum melakukan tindakan, dokter berkewajiban agar memberikan penjelasan yang memuaskan pasien/keluarga sebelum sesuatu Tindakan medik dilakukan. Komunikasi yang efektif antara pasien dan dokter memberi kesempatan kepada pasien /keluarga untuk mempertimbangkan setuju atau menolak sesuatu Tindakan kedokteran.

Dari data diatas, maka patut kiranya dilakukan upaya-upaya penyelesaian sengketa medik dengan cara mediasi.
Cara ini untuk mendapatkan hasil win-win solution diluar jalur hukum.

Dengan proses mediasi diharapkan hubungan dokter pasien tetap terjaga dan sesuai budaya kita yakni musyawarah dalam mencapai mufakat, sebagai mana tertuang dalam sila ke empat dasar negara Republik Indonesia Pancasila.

*Kepala Puskesmas Kedamean Gresik/
Owner Klinik Krisna Grup/ Program Pasca Sarjana Magister Hukum Jurusan Hukum Kesehatan Universitas Hang Tuah Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *