Risalah 7 Bukit di Gresik, Cara Kota Seger Memaknai Alam

Gresiknews.co – “Yang depan duduk. Yang depan duduk” bisik penonton pementasan teater berjudul Risalah 7 Bukit, kepada orang di depannya.

Pementasan Risalah 7 Bukit di Halaman Pondok Pesantren Watu Bodo di Desa Pangkahkulon, Kecamatan Ujungpangkah, Kabupaten Gresik, terbilang unik. Pasalnya, tidak ada panggung dan banyaknya titik penampilan. Penontonnya juga tak hanya pengiat teater, tetapi juga masyarakat sekitar.

“Total ada 7 titik lokasi penampilan. Masing-masing mempunyai cerita dan membentuk rasi bintang Gubug Penceng (Layang-layang), yang menjadi penanda arah selatan,” tutur Rakai Lukman, Panitia Pendampingan Proses Kreatif Komite Teater Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), Minggu (23/9/2018) malam.

Kegiatan yang dilaksanakan selama empat hari, Kamis-Minggu/20-23 September 2018 itu, digelar oleh Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT) bekerjasama dengan Komunitas Teater Pelajar Gresik (Kota Seger).

Total ada 25 peserta yang berasal dari Gresik dan Lamongan. “Salah satu bentuk wujud pendampingan berupa pementasan malam ini,” ujar Lukman.

Pria yang pernah kuliah di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini menjelaskan, Riset Risalah 7 Bukit yang ada di Kabupaten Gresik sudah digarap sejak setahun lalu. Namun, baru fokus digarap dua bulan ini.

7 bukit itu, yakni bukit Banyu Urip, bukit Gosari, bukit Larangan, bukit Surowiti, bukit Prupuh, bukit Pundut dan bukit Kukusan (Putusan).

“Kami senang masyarakat disini begitu antusias melihat pementasan teater. Itu tandanya masyarakat memang haus akan kesenian,” kata Lukman, yang juga dedengkot Kota Seger.

“Ini juga menjadi pengingat masyarakat bahwa bukit Pundut dan bukit Kukusan sudah tidak tampak lagi,” imbuhnya.

Sholihul Huda, Sutradara sekaligus Aktor Risalah 7 Bukit, menyatakan, bahwa bukit yang diangkat dalam naskah ini tak hanya sekedar batu kapur yang menampung banyar air. Tetapi juga nilai-nilai historisitas yang ada di dalamnya.

“Ada banyak pendekatan yang kami gunakan dalam proses pengerjaannya, termasuk pendekatan mistis,” ungkap Huda.

Dirinya menambahkan, teater terkadang tidak butuh panggung. Sebab semua adalah panggung. Sehingga pada pementasan Risalah 7 Bukit sengaja menjadikan tempat biasa sebagai panggung.

“Jika seperti ini semua menjadi lebur. Risalah 7 Bukit berubah maknanya menjadi 7 pengetahuan, 7 kesadaran dan 7 titik ruang,” tambah Huda, bersemangat.

Ketua DKJT, Taufik Hidayat (Taufik Monyong), yang menyasikan pementasan, mengaku mengapresiasi kerja keras dan kekompakan panitia maupun peserta. “Semua tampak artistik dan saya melihat ada potensi aktor-aktor yang hebat disini,” ucapnya.

Taufik Monyong berharap, Risalah 7 Bukit tak hanya dipentaskan satu kali saja. Tetapi bisa dipentaskan ke lingkup lebih besar lagi.

“Semoga hasil riset yang sudah dipentaskan ini, bisa di tampilkan ditingkatan provinsi hingga pusat,” harapnya. (Khanif/m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *