Sumpah Pemuda, Siswa SLB di Gresik Gelar Upacara dengan Bahasa Isyarat

Gresiknews.co – Sejumlah siswa SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik mengelar upacara peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-91 dengan bahasa isyarat di halaman sekolah, Minggu (27/10/2019).

Total ada 61 siswa difabel, seperti tuna grahita, tuna rungu/wicara dan tuna netra yang tampak khidmat mengikuti jalannya upacara. Hadir sebagai pembina upacara Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani.

Saat pembacaan teks Pancasila dan Sumpah Pemuda, mereka turut serta mengikuti dengan bahasa isyarat. Begitu pula saat pengibaran bendera merah putih, mereka juga menggunakan bahasa isyarat.

“Saya terenyuh bisa ikut upacara bareng adik-adik difabel. Kami berharap mereka bisa merasakan semangat Sumpah Pemuda. Dan semoga nantinya mereka memiliki masa depan yang cerah,” ungkap Ketua DPRD Gresik Fandi Akhmad Yani, seusai upacara.

Pria yang akrab disapa Gus Yani ini mengajak semua siswa untuk menjadikan momentum peringatan Sumpah Pemuda sebagai ajang berkarya.

“Mari bersama-sama membangun Gresik sesuai dengan keterampilan dan keahlian yang dimiliki,” ucap politisi muda PKB ini.

Usai melaksanakan upacara, Gus Yani dan Waka Polres Gresik Kompol Dhyno Indra Setyadi didampingi Kepala SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik Dede Idawati meninjau workshop pelatihan tata boga (bagi siswi) dan konveksi (bagi siswa). Di tempat itu mereka dilatih membuat keripik stik krispi dan sablon kaos.

“Melihat keterampilan mereka saat membuat keripik dan sablon kaos, sebenarnya mereka memiliki SDM yang unggul karena memiliki skil yang luar biasa. Bahkan, hasil produksi mereka ternyata sudah dipasarkan ke beberapa daerah,” ujar Gus Yani.

Kepala SLB AB Kemala Bhayangkari 2 Gresik Dede Idawati mengatakan, pihak sekolah berharap agar para siswa difabel diberikan peluang yang sama dengan lainnya.

“Kami mengajarkan siswa berbagai keterampilan agar bisa hidup mandiri,” kata Dede.

Menurutnya, hasil produk siswa difabel dijamin tak kalah saing dipasaran. Bahkan, beberapa daerah seperti Bandung, Bogor, hingga Kalimantan sudah sering membeli.

“Kami berharap agar diberikan tempat pengembangan untuk siswa. Salah satunya dengan workshop atau tempat jualan untuk memasarkan produk siswa,” harapnya. (Khanif/m1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *