Tren perjalanan kereta api kini telah bergeser. Tidak lagi sekadar moda transportasi untuk berpindah dari satu kota ke kota lain, kereta api telah bertransformasi menjadi destinasi wisata itu sendiri. Hal ini terlihat jelas dari data terbaru PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang mencatat lonjakan signifikan pada layanan Kereta Panoramic, sebuah indikator bahwa masyarakat semakin menikmati pengalaman visual sepanjang perjalanan. Di sisi lain dunia, tepatnya di Portland, Amerika Serikat, semangat serupa terlihat dari perjuangan komunitas lokal untuk menghidupkan kembali jalur kereta wisata bersejarah yang telah lama mati suri.
Gairah Baru Menikmati Bentang Alam Indonesia
Di Indonesia, antusiasme masyarakat terhadap layanan kereta wisata menunjukkan tren positif yang konsisten. PT KAI mencatat adanya kenaikan jumlah pengguna Kereta Panoramic sebesar 34 persen pada periode Januari hingga Mei. Total pelanggan yang dilayani mencapai 48.822 orang, sebuah peningkatan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai 36.330 pelanggan.
Bahkan, pada bulan Mei saja, tercatat ada 11.708 penumpang yang menikmati layanan ini, mencerminkan pertumbuhan bulanan sebesar 27,34 persen dibandingkan tahun lalu. Vice President Public Relations KAI, Anne Purba, mengungkapkan bahwa angka-angka ini menandakan perubahan pola pikir pelancong. Masyarakat kini memburu pengalaman wisata yang berkesan di atas rel, bukan sekadar kecepatan sampai di tujuan.
Melalui Kereta Panoramic, penumpang diajak untuk meresapi keindahan bentang alam Indonesia secara imersif. Jendela berdimensi lebar dan fitur automatic sunroof memungkinkan cahaya matahari masuk dengan leluasa, menyajikan pemandangan pegunungan hijau, hamparan sawah, jembatan tinggi yang melintasi lembah, hingga terowongan eksotis—pemandangan khas yang ditawarkan jalur selatan Pulau Jawa.
Inovasi Layanan dan Rute Strategis
Tingginya minat ini direspon KAI dengan pengoperasian strategis di berbagai rute utama Pulau Jawa. Kereta Panoramic kini dirangkaikan pada KA Argo Wilis dan KA Turangga untuk relasi Bandung – Surabaya Gubeng. Selain itu, layanan ini juga tersedia pada KA Parahyangan (Jakarta – Bandung), serta beberapa kereta yang beroperasi secara fakultatif seperti KA Pangandaran, KA Papandayan, dan KA Mutiara Timur.
Dikelola oleh KAI Wisata, kereta ini memang dirancang dengan pendekatan inovatif. Modifikasi sarana eksekutif dilakukan untuk mengutamakan estetika visual dan kenyamanan. Dengan kapasitas kabin 38 kursi yang lega, penumpang juga dimanjakan oleh layanan kru khusus (dedicated train attendant) yang menyajikan makanan, minuman, hingga fasilitas hiburan dan Wi-Fi gratis. Ini adalah upaya nyata memperluas peran kereta api modern sebagai transportasi bernilai tambah.
Asa Menghidupkan Jalur Bersejarah di Portland
Sementara Indonesia tengah menikmati masa keemasan kereta wisata modern, sebuah upaya pelestarian sejarah kereta api sedang berlangsung di Portland, Oregon. Para pemimpin daerah dan advokat transportasi baru saja mengambil langkah besar untuk memulihkan jalur “Washington Park and Zoo Railway”, sebuah rute bersejarah berdurasi 30 menit yang menghubungkan Kebun Binatang Oregon dengan Washington Park.
Dewan Metro setempat telah menyetujui kerja sama dengan pemerintah kota Portland untuk merencanakan pendanaan dan perbaikan jalur tersebut. Langkah awal yang konkret telah diambil dengan penyisihan dana sebesar 50.000 dolar AS untuk penilaian geoteknik pada jalur rel, dengan syarat kelompok advokasi mampu menggalang dana tambahan sebesar 200.000 dolar AS.
Jalur lingkar Washington Park ini memiliki nilai sentimental yang tinggi. Beroperasi sejak 1960 hingga 2013, jalur ini terpaksa dipangkas rutenya demi pembangunan pameran gajah yang baru. Sejak saat itu, kereta hanya beroperasi dalam rute pendek enam menit di dalam area kebun binatang, meninggalkan jalur hutan yang indah menuju stasiun lama di dekat Rose Garden dan Japanese Garden terbengkalai. Padahal, jalur ini telah masuk dalam Daftar Tempat Bersejarah Nasional sejak 2020.
Tantangan Restorasi dan Dukungan Publik
Upaya menghidupkan kembali jalur ini bukannya tanpa kendala. Terdapat kompleksitas kepemilikan aset di mana kereta dioperasikan oleh Metro, namun peralatannya dimiliki oleh kota Portland. Pihak Kebun Binatang Oregon sendiri menyatakan tidak memiliki anggaran untuk renovasi rel yang mahal, serta menganggap proyek tersebut tidak sejalan dengan misi utama mereka dalam konservasi satwa liar.
Namun, Kathy Goeddel, Presiden Friends of Washington Park and Zoo Railway, tetap optimistis. Menurutnya, persetujuan dewan baru-baru ini adalah lampu hijau yang krusial. Kelompoknya yakin dapat menggalang dana perbaikan secara swadaya selama mendapatkan izin dari pemerintah. Keyakinan ini didukung oleh petisi yang telah ditandatangani oleh hampir 50.000 orang dan dana donasi yang telah terkumpul lebih dari 70.000 dolar AS.
Anggota Dewan Metro, Christine Lewis, menyoroti bahwa banyak warga memiliki kenangan mendalam tentang jalur lingkar penuh tersebut, bahkan bagi mereka yang bukan penduduk asli sana. Baik di Jawa maupun di Portland, fenomena ini menegaskan satu hal: perjalanan kereta api, baik yang modern maupun bersejarah, memiliki daya tarik emosional yang kuat sebagai sarana menikmati keindahan dunia.